by

Sejarah Desa Sukoharjo, Kec. Wilangan, Kab. Nganjuk


Desa Sukoharjo merupakan salah satu desa di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Desa Sukoharjo berbatasan dengan Desa Banaran Kulon di sebelah timur, Desa Banaran Wetan di sebelah utara, Desa Bandungan di sebelah barat, dan Desa Ngudikan di sebelah selatan.

Dinamakan Desa Sukoharjo, karena diambil dari kata suko yang merupakan nama pohon yang ditemui oleh Mbah Suro Manggoloyudo pada saat beliau beristirahat dari perjalanannya menyusuri dan membabat Dusun Tukdadap, Dusun Plosorejo, Dusun Nganginan dan yang terakhir adalah Dusun Wakung, juga Harjo yang berarti tentram, damai dan ramai karena pasalnya daerah itu memanglah ramai tetapi masyarakatnya tentram dan damai. Desa Sukoharjo dijadikan tempat tinggal Mbah Suro Manggoloyudo atau yang dikenal oleh masyarakat sebagai Mbah Brewok, setelah lelah membabat dusun-dusun yang kini menjadi bagian dari Desa Sukoharjo.


Sejarah Desa Sukoharjo dimulai dari pelarian prajurit Grobogan Jawa Tengah tepatnya dari Kerajaan Mataram yang sampai ke daerah barat Kabupaten Nganjuk. Pelarian prajurit ini dipimpin oleh Mbah Suro Manggoloyudo yang disebut juga Mbah Brewok.Kemudian MbahBrewok mencari penghidupan di dekat sumur di daerah barat Kabupaten Nganjuk. Tak hanya mencari penghidupan, Mbah Brewok juga membabat hutan di daerah itu. Ketika melakukan pembabatan bersama para anak buahnya, beliau melihat sebuah pohon dadap yang kemudian dusun yang telah dibabatnya itu dinamakan Dusun Tukdadap.


Beberapa tahun menetap di Dusun Tukdadap akhirnya banjir datang dan memaksa mereka berpindah tempat dan berjalan sedikit ke selatan. Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya mereka sampai di daerah yang disana terdapat pohon ploso. Di sana sudah ada sebuah perkampungan yang telah dibabat oleh Mbah Iro Drono dan Mbah Darinah. Di daerah itu telah dibuat sumur yang teryata sumbernya gede(besar) yang kemudian dinamakan Sumur Gede oleh Mbah Iro Drono. Maksud kedatangan Mbah Brewok ke daerah itu adalah untuk mencari kehidupan dan mencari keturunan. Kemudian oleh Mbah Iro Drono dan Mbah Darinah dusun itu dinamakan Dsun Plosorejo karena banyak pohon ploso tumbuh di daerah itu.


Selang beberapa tahun, Mbah Brewok beserta anak buahnya menyisir ke sebelah timur di daerah yang isis atau anginnya kencang. Tak hanya beristirahat dan ngisis di daerah itu beliau pun membabat dan menjadikan hutan lebat di sana menjadi sebuah permukiman yang asri dengan udara yang cukup sejuk. Oleh karena itu, oleh Mbah Brewok daerah bercuaca sejuk itu dinamakan Dusun Nganginan.

Keinginan Mbah Brewok untuk terus mengembangkan dan membabat hutan lebat di daerah barat Kabupaten Nganjuk tak berhenti di Dusun Nganginan. Setelah lama beristirahat, Mbah Brewok pun melanjutkan perjalanan menyusuri hutan lebat ke arah timur dan beristirahat di bawah pohon suko. Saat beristirahat dan sedikit demi sedikit membabat hutan, beliau mendengar suara burung kutut yang nyaring berbunyi ”kung…kung…kung…”. Selang beberapa saat Mbah Brewok pun berkata ”Wah Kung” yang kemudian memberi nama daerah itu dengan Dusun Wakung.


Dusun Wakung menjadi tempat terakhir perjalanan panjang MbahBrewok menyusuri hutan demi hutan yang lebat penuh pepohonan dan membabatnya menjadi sebuah permukiman asri dan tentram. Mbah Brewok bersama para anak buahnya pun memutuskan untuk menetap di daerah yang memliki banyak pohon suko. Tak memakan waktu lama, permukiman itu menjadi semakin ramai dan Mbah Brewok pun memutuskan untuk menamakannya dengan Desa Sukoharjo. Mbah Brewok pun atas kegigihannya mampu mempersatukan empat dusun dalam satu desa yang kemudian semakin ramai dan tentram sampai saat ini.
Untuk melestarikan peninggalan bersejarah di Desa Sukoharjo dan sebagai agenda tahunan di sana, masyarakat rutin mengadakan acara Nyadran atau yang dikenal warga dengan bersih desa. Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah (Wikipedia).Bersih desa atau nyadran itu sendiri dilaksanakan oleh para masyarakat Desa Sukoharjodi punden-punden peninggalan yang masih terjaga hingga sekarang. Upacara adat seperti ini tentunya harus terus dijaga kelestariannya agar tetap lestari hingga dapat terus ada sampai tahun yang akan mendatang.

Sumber : Manusript Desa Sukoharjo yang disimpan di Kantor Desa Sukoharjo
Wawancara dengan narasumber, Bapak Supriyono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed